SORONG,LAPAKBERITA.ID – Praktik perdagangan kayu ilegal kembali mencuat di wilayah Papua Barat Daya, khususnya Kabupaten Sorong.
Dalam investigasi langsung pada awal April 2025, tim kami menemukan sebuah gudang penampungan kayu tanpa nama yang diduga menjadi pusat aktivitas illegal logging di jalan Osok Aimas Kabupate Sorong Papua Barat Daya.
Berlokasi tersembunyi dan tertutup rapat, gudang ini menyimpan tumpukan kayu pacakan yang berbentuk balok dan papan yang siap dikirim, diduga hasil pembalakan liar yang beroperasi di luar pengawasan hukum.
Pengamatan di lapangan menunjukkan aktivitas mencurigakan, termasuk mobilisasi truk dan kontainer yang keluar dari gudang tersebut dalam beberapa minggu lalu.
Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, “Iya, itu gudang memang tidak ada namanya, namun ada aktivitas karena beberapa kali saya lihat ada truk dan kontainer yang keluar masuk dari gudang tersebut dalam beberapa minggu lalu.”
Keberadaan gudang tanpa identitas tersebut dan operasinya yang terselubung memunculkan pertanyaan besar: dari warga setempat, apakah pemilik gudang memiliki kekebalan hukum, atau ini adalah bagian dari jaringan illegal logging yang masih sulit diberantas?
Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya, gudang tersebut diduga dimiliki oleh seorang warga berinisial Jr, yang disebut-sebut memiliki pengaruh di kalangan tertentu dan telah lama terlibat dalam bisnis kayu ilegal. Bahkan menurut informasi yang kami dapatkan, dilapangan, pernah juga diduga sebagai calo dalam pengurusan dokumen pengiriman kayu keluar dari sorong. Namun, hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang terkait status legalitas gudang dan kegiatan tersebut.
Menyikapi temuan ini, pihak berwenang, khususnya Kepolisian Resor Sorong dan Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat Daya, Dan Polda Papua Barat Data, serta APH lainnya didesak untuk segera bertindak.
Kami meminta Kapolres Sorong dan instansi terkait untuk meninjau lokasi, dan menyegel gudang, serta, mengusut dugaan illegal logging ini hingga tuntas,” ujar salah satu aktivis lingkungan setempat. (Tim)