BANGKALAN, LAPAKBERITA.ID – Bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan dari sebuah Budaya dengan bahasa daerah, kita dapat mengetahui Etnik dari seseorang atau golongan juga mengetahui dari mana orang itu berasal, dari bahasa daerah itu juga merupakan sebuah keseragaman Budaya yang harus kita lestarikan agar keberadaannya tidak hilang akibat perkembangan zaman modern ini.
Dalam “Ethnologue” 2012 disebutkan bahwa di Indonesia terdapat 726 bahasa diantaranya ada beberapa yang terancam punah, karena masyarakat tidak mau melestarikan bahasa tersebut, Ada juga bahasa daerah yang sudah hilang tidak dipergunakan lagi, Akan tetapi masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai kebudayaan kuat tetap mempertahankan bahasa daerahnya itupun tidak sedikit.
Bahasa Madura adalah salah satu dari sekian ratus bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahkan dengan perkembangan zaman bahasa Madura mulai menyebar keseluruh Nusantara, banyak orang mulai mengenal bahasa yang khas ini keberadaan bahasa Madura itupun beragam meskipun sama-sama bahasa Madura “Logat bahasa berbeda” antara 4 (Empat) Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Yang jadi permasalahan, sekarang bukan perbedaan bahasa diantara orang-orang Madura, namun mulai terkikisnya bahasa Madura tersebut dengan banyaknya orang tua yang mengajarkan bahasa Indonesia terhadap anaknya sejak kecil, Hal itu sudah banyak terjadi pada masyarakat Madura yang berada di daerah perkotaan sejak kecil anak-anak mereka dibiasakan memakai bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, sehingga tidak memakai lagi bahasa Madura, kebiasaan ini mengakibatkan bahasa Madura mulai tergeser oleh bahasa lain meskipun itu bahasa Nasional.
Saat tim awak media bertandang ke salah satu lembaga pendidikan, UPTD SDN Demangan 01 Kecamatan Bangkalan, Kinanto,S.Pd selaku Kepala Sekolah juga Ketua K3S memaparkan, ” Dengan khas Maduranya “Santun dan Bijak” bahasa Madura sebetulnya sama juga dengan bahasa tradisional yang harus dilestarikan dan harus di budayakan kepada generasi-generasi yang masih usia dini (kecil), namun dalam era ini bahasa Madura sudah terkikis dengan bahasa lokal maupun bahasa luar yang bukan menjadi salah satu kebudayaan Madura, Banyaknya bahasa gaul yang sering dipakai sama generasi muda saat ini sampai-sampai berkomunikasi dengan orang tua sudah tidak memakai tatak krama “Adat ketimuran” melainkan memakai bahasa-bahasa gaul, disinilah letak kesalahan (salah kaprah) yang seharusnya dipahami menjadi tidak mengerti dengan sopan santun lagi sampai saat ini.” Tuturnya kepada para awak media. Senin (03/04/2023) di ruang kantornya.
(WIE)